Sunday, January 06, 2013

Not for REAL... Because It's Only *****


   "Kita mau kemana hari ini?"

Deg. Jantungku berdegup ketika mendengar pertanyaannya itu. Kenapa dia harus tanya aku? Bukannya dia yang ngajak aku pergi? Hmm.. Ah sudah, hentikan. Aku rasa bukan hal yang aneh ketika dia menanyakan hal seperti itu. Toh, perginya memang sama aku. Jadi ngga aneh dong kalo dia nanya kita mau kemana..

     "Hmm, memang tadinya hari ini rencana mau kemana?"

Aku malah balik bertanya. Bukannya gimana, aku juga bingung mau jawab apa..

     "Terserah.. Maunya kemana?" Yah, dia malah tanya aku balik..

Mukanya datar seperti biasa, tapi gimanapun juga muka seriusnya itu yang justru menarik perhatianku.

     "Apa mau makan aja?"

     "Hmm boleh. Dimana?"

Aduh............. Aku paling gak bisa ditanyain beginian secara mendadak..

     "Hmm lagi mau makan apa?" Please.

Jelek banget jawabanku. Ini mah nanya balik nanya namanya..

     "Yaudah, kita ke tempat biasa aja deh ya?" Jawaban dia menyelesaikan diskusi kami.

Aku cuma terdiam, lalu mengangguk. Wajahnya masih datar. Apa dia sebel sama jawabanku yang nggak ngejawab? *sigh* Semoga ngga. Aku lupa, sebetulnya di perjalanan kami ngomong banyak hal, tapi aku nggak bisa mengingatnya.. Apa aku nggak bisa ingat karena terlalu memperhatikan wajahnya? Hahahaha.. Yang aku ingat cuma...

     "Awas!"

Saking kagetnya, aku mencengkeram pergelangan tangannya. Mobil yang kami kendarai hampir nabrak. Yah, kalaupun ngga nabrak seenggaknya nyerempet mobil lain. Kalau aku nggak salah, dia terlalu asik membahas sesuatu.. Kepalanya menoleh kearahku terus, makannya dia jadi meleng dari jalanan dan jadi ngga lihat waktu ada mobil yang mau nyalip dari kiri. Dia nggak biasanya gitu, lho. Setahuku, dia paling hati-hati kalau lagi nyetir. Bahkan dia bisa berhenti ngomong karena harus konsentrasi menyetir, walaupun mungkin omongannya belum selesai. Kesannya serius banget yah dia? :p Tapi sebetulnya kadang-kadang dia lucu juga sih. Hahaha, seenggaknya dia berusaha untuk melucu.

Matanya kembali mengawasi jalanan yang seingatku ngga begitu padat di hari itu. Duh, aku jadi nggak enak tadi sampai mencengkeram tangannya segala. Takutnya, dia pikir aku lebay lagi. Hufft.. Mudah-mudahan nggak deh..

     "Besok mau pergi lagi?"

Degg...

Dia nanyain aku besok mau kemana? Jadi, besok kami pergi lagi? Nggak bohong sih kalau aku bilang aku senang ditanya begitu, tapi kenapa tumben banget ya? Aku ini sebetulnya spesial atau cuma asik jadi temen pergi aja sih?

     "Eh? Boleh.. Memangnya mau kemana?" Aku menjawab dengan sedikit keheranan.

     "Kemana ya? Ada ide?"

Duh, pertanyaan ini lagi.. Tadi aja aku gak bisa kasih jawaban ke dia. Terus pertanyaan yang ini mau aku jawab apaa -.-

     "Hmmm.................. (aku berpikir cukup lama, dia cuma diam aja)........ Kemana ya? Hahahaha" Aku cuma bisa kasih ketawa. Payah. -.-

     ".....Ayo.. Mau kemana besok?" Dia tetap bertanya kepadaku dengan nada yang sedikit menggoda. Seolah-olah dia mengerti bahwa aku kesulitan untuk menyebutkan sebuah tempat, tapi dia juga tidak ingin menentukan tempat tujuan pergi untuk besok, hahaha.. Seneng sih, tapi bingung juga mau suggest tempat apa.. Tiba-tiba aku inget sebuah tempat makan yang belum pernah kami datangi, tapi harganya memang cukup mahal.

     "Gini aja deh, lagi pengen abisin duit banyak buat makan gak?" Aku mencoba untuk menyarankan tempat yang aku ingat barusan, tapi aku juga harus kasih ingat bahwa harganya ngga semurah tempat biasanya.

     "Hmm boleh juga sekali-sekali, tapi makanannya harus setimpal dengan harganya. Kemana?"

     "Gimana kalo kita ke '--- -----'?" (aku nggak bisa mengingat namanya)

     "Boleh. Kayaknya tempat itu cukup oke."

Wah, dia mau aja aku ajak pergi kesana.. Hahaha.. Walaupun jawabannya cukup singkat tapi aku seneng ternyata tempat itu gak masalah buat dia.

Nggak terasa kita sudah sampai di tempat yang dituju. Dia parkir, dan kami keluar dari mobil menuju tempat makan yang dia sebut sebagai "tempat biasa". Sebetulnya dibilang "tempat biasa" juga bukan karena kami sering banget ke situ, tapi memang tempat itu mudah dikunjungi dan pernah beberapa kali kami datangi. Tempat makan itu berada pada gedung yang sama dengan kolam renang. Di hari libur kayak gini, biasanya tempat itu agak ramai. Yasudah lah ya, toh aku dan dia sudah sampai juga disana.

     "Aku ke toilet dulu." Entah kenapa secara otomatis aku mengeluarkan kata-kata itu.

     "Oke, aku pesan duluan ya. Mau titip apa?" Seperti biasa, dia selalu perhatian.

     "Nggak deh, aku nanti aja."

Hmm, sebetulnya aku bingung kenapa aku bilang mau ke toilet.. Tapi kayaknya aku emang mau ke toilet dulu deh..

Antrian di toilet ternyata cukup panjang.. Selagi antri, kayaknya aku ngeliat sosok yang familiar lagi makan es krim. Sosok perempuan yang aku kenal itu berdiri di pintu masuk tempat makan itu. Akhirnya aku putuskan untuk menghampirinya.. Pikirku, daripada lama-lama antri di toilet yang sebetulnya juga ga perlu-perlu amat, mendingan aku ngobrol sebentar sama dia.

     "Hai M**!" (aku sensor). "Loh, kamu ngapain disini?"

     "Eh, hai Lu! Hahaha.. Lagi iseng aja nih, makan es krim.."

Tiba-tiba si M celingak-celinguk kayak nyariin seseorang. Setelah beberapa saat, pandangannya seperti berhenti pada satu arah tertentu, lalu kembali menatapku. Ups, kayaknya dia tahu aku pergi sama siapa.

     "Hmm, bentar yah, aku kesana dulu." Tanpa menunggu balasan dariku, M langsung pergi meninggalkanku.

Tiba-tiba si M udah ngilang dari pandanganku, terus gatau deh dia kemana.. Aku memutuskan untuk kembali ke restoran tempat tujuan awalku tadi.. Begitu aku mau balik ke tempat duduk di resto itu, M muncul didepanku bareng si S... wah kacau.. S itu kan..............

**************

Kelopak mataku terbuka perlahan.. Sambil mencoba berkonsentrasi, aku tersadar dari sebuah alam yang tak asing bagiku dan kembali ke ruangan hangat yang sering aku juluki 'sarang'. Ya, ini kamarku. Dengan segera aku menyadari bahwa seluruh kejadian tadi hanyalah *****.. Sudut bibir sebelah kananku terangkat, sebuah senyum kecut tersungging. Mataku menatap kosong, mencoba mengumpulkan seluruh ingatan mengenai kejadian yang baru saja terjadi dan terasa cukup nyata. Bagaimanapun juga, kejadian itu adalah hal manis yang bisa aku kenang, walaupun hanya *****. Ya kan? Boleh kan aku menyimpannya? Setidaknya sampai kejadian yang REAL menghampiriku.. Ah, baiklah. Aku segera terduduk dan menyapa penciptaku. Selamat pagi, hai sang Pencipta :") terima kasih untuk *****nya :)

No comments:

 

It's Time to Change! Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos